Sukses

Potret Menembus Batas: Buaya Vs Warga di Aceh Singkil

Liputan6.com, Aceh - Pertempuran buaya dengan penduduk Desa Siti Ambia, Aceh Singkil belum juga usai. Manusia dan buaya saling intip. Siapa yang lengah dialah yang kalah.

Tercatat 3 warga desa tewas sejak 2007. 11 Buaya terlumpuhkan oleh ksatria-ksatria desa dan satu di antaranya dibakar.

Amarah tak kunjung padam. Pemangku kuasa dianggap lamban menangani kasus perebutan lahan antara buaya dan manusia. Antara sumber makanan predator dan sumber pendapatan warga.

Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nangroe Aceh Darussalam mulai bergerak. Warga tak dibenarkan berburu atau bahkan membunuh buaya, salah satu reptil purba peninggalan zaman dinosaurus yang masih bertahan.

Menyusur Sungai Singkil, membelah kawasan rawa gambut di Suaka Margasatwa Singkil di kawasan seluas lebih dari 100 ribu hektare, satu buaya tampak masuk ke dalam perangkap warga. Tak hanya itu, 2 hingga 3 buaya lagi-lagi terlihat.

Ini membenarkan dugaan warga bahwa buaya muara atau dalam bahasa latin crocodilus porosus telah puluhan tahun berkembang di kawasan pesisir Pantai Barat Aceh. Rawa Aceh Singkil sudah jadi habitat bagi buaya muara.

Buaya kecil diangkat dari perangkap dan seekor ayam disembelih. Warga percaya bangkai ayam akan mengundang nafsu makan buaya-buaya di sekitar perangkap. Buaya-buaya muara singkil akan terus diburu warga sampai titik teror buaya hilang.

Ladang Emas

Lokan atau kerang muara menjadi salah satu komoditas yang menggerakan ekonomi warga 11 desa di Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil.

Perputaran uang komoditas lokan ini mencapai Rp 40 juta dalam sehari dan bila dihitung dalam hitungan bulan bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan.

Para pencari lokan berani bertaruh nyawa, melawan ganasnya buaya muara Sungai Singkil yang mendiami kawasan kawasan penghasil lokan karena dahsyatnya bisnis ini.

Teror buaya yang tidak hanya mengancam ekonomi warga, namun sudah pada tingkat mengancam nyawa, membuat pemerintah mencari jalan keluar mengatasi teror buaya.

Meski penangkaran belum terbangun, BKSDA Nangroe Aceh Darussalam tetap menerima buaya-buaya tangkapan warga dan buaya hidup dalam satu kandang kecil.

Buaya hingga kini masih bebas berkeliaran, warga juga tetap bertaruh nyawa mencari lokan di sekitar sarang-sarang buaya.

Bagaimana perjuangan hidup warga Desa Siti Ambia menghadapi buaya muara penghuni rawa Singkil? Saksikan selengkapnya dalam tayangan Potret Menembus Batas SCTV, Senin (29/6/2015), di bawah ini. (Nda/Rmn)

Artikel Selanjutnya
Warga Tangkap Buaya 3 Meter dengan Umpan Burung
Artikel Selanjutnya
Buaya Ganas Terkam dan Seret Warga Kampung Zumi Zola