Sukses

Potret Menembus Batas: Satu Bumi Gajah Manusia

Liputan6.com, Aceh - Sore ini belasan gajah liar benar-benar tenang menikmati aroma rumput dan pohon pinus di sebuah pojok desa di kawasan Bener Meriah. Topografi Aceh yang penuh dengan dataran hijau dan sungai seperti urat nadinya, menjadikan kawasan ini seperti surga bagi gajah Sumatera.

Anak-anak gajah merasa nyaman di sisi induknya, seolah tak ada predator yang mengancam hidupnya.

Tapi situasi ini bagi warga bukanlah situasi yang aman. Ini justru situasi yang mencekam. Gerombolan gajah ini harus segera diusir.

Yusuf Alamsyah hafal betul dengan tabiat gerombolan ini, bahkan betina tertua yang menjadi pimpinan gerombolan pun sempat diberi nama Eka, nama betina itu.

Ada pula gajah yang diberi nama Makna. Gajah jantan ini yang bertugas sebagai penjelajah dan menemukan titik-titik makanan bagi gerombolannya. Dan kini sedang berada di kawasan Beurun.

Mengusir Makna si pejelajah bukanlah pekerjaan mudah. Bobotnya yang mencapai 4,5 ton tidak membuat dirinya mudah ditemukan. Makna begitu pintar bersembunyi dan tahu-tahu ia hanya meninggalkan jejak.

Pemahaman warga, Makna semakin mengganas karena di tubuhnya dilekatkan GPS pelacak. Bahkan warga berspekulasi, Makna ditolak oleh gerombolannya karena menggunakan GPS.

Kawan Maupun Lawan

Gajah liar dan warga desa di Pulau Sumatera adalah 2 entitas yang kadang menjadi kawan yang begitu karib, tapi kadang menjadi seteru yang tak kunjung usai.

Di sebuah sudut desa di Pante Peusangan, Beurun, sebuah rumah mungil berdiri kokoh. Begitu berani sendiri tanpa teman.

Panglima dan keluarga sangat sadar bahwa ancaman gajah liar sewaktu waktu bisa datang karena tempat rumahnya berdiri adalah jalur lintasan gajah liar.

Meriam karbit selalu siaga di samping rumahnya. Inilah cara Panglima melindungi diri dan keluarganya.

Namun cara yang digunakan Panglima di Pante Peusangan tak berlaku bagi penduduk transmigran di lembah Desa Jalung, Bener Meriah.

Kumpulan rumah yang jumlahnya mencapai seratusan ini ditinggalkan begitu saja oleh penghuninya, karena kawasan ini bukan lagi jalur lintasan namun ini kawasan kampung gajah liar.

Cinta dan perseteruan antara gajah liar dan warga tidak hanya kata indah yang disimpan dan sewaktu-waktu dikatakan. Namun ia benar-benar hidup dan ada seperti yang terjadi di Desa Blang Pante, Aceh Utara.

Bayi gajah yang masih berumur kurang dari sebulan ini diasuh warga karena ditinggalkan induknya sendirian di dalam hutan. Si kecil ini diberi nama Raju.

Berbeda dengan yang agak besar. Umurnya sudah 2 tahun. Ia juga dirawat warga karena tersesat dan ditinggalkan kelompoknya sendirian di kebun warga. Yang ini diberi nama Raja.

Sejarah Indah Gajah Serambi Mekah

Kawasan Serambi Mekah ini sesungguhnya menyimpan cerita sejarah indah tentang gajah. Abad 16 saat Sultan Iskandar Muda berkuasa di Kesultanan Aceh, gajah mengalami masa kejayaan.

Dari berperan sebagai armada perang, benteng, penyambut tamu kenegaraan, hingga yang paling fenomenal ia menjadi tunggangan raja. Gajah adalah simbol keagungan dan rakyat begitu menghormati peran gajah.

Kini gajah liar di Aceh seolah hidupnya terhimpit kanan kiri. Setiap hari harus berhadapan dengan meriam karbit, diusir dari jalur lintasannya seolah ia tak lagi berperan seperti saat Sultan Iskandar Muda berkuasa.

Saksikan cinta dan perseteruan antara gajah dan warga Serambi Mekah selengkapnya dalam Potret Menembus Batas SCTV, edisi Senin 21 September 2015 di bawah ini. (Nda/Rmn)

Artikel Selanjutnya
Versi Mini, 3 Hewan Ini Memiliki Ukuran Tubuh Terkecil di Dunia
Artikel Selanjutnya
Mencari Jejak Manusia Prasejarah di Maluku