Sukses

Potret Menembus Batas: Melawan Kepunahan Orang Utan

Liputan6.com, Jakarta - Sebentar lagi malam datang kala itu. Itu berarti waktu bermain telah usai. Satu persatu bayi-bayi orang utan naik kereta dorong alias gerobak menuju rumah masing-masing. Prilakunya persis anak-anak kecil, meski berdesakan, bayi bayi ini asyik dengan dirinya.

Dan ada saja yang nakal. Waktu bermain habis, Oky tetap tak ingin pulang. Kasih sayang keeper dan baby siter telah melembutkan hati bayi-bayi orang utan ini. Bahkan untuk menurunkan bayi orang utan yang jauh di atas menara, tak perlu seutas tali panjang untuk menjerat tubuhnya, namun cukup memanggilnya dengan penuh cinta. Ini lebih kuat dibanding tali jerat apapun.

Satu per satu keeper dan baby siter sore itu mencari bayi-bayi yang masih belum mau pulang. Sekitar 90 anak-anak orang utan penghuni tempat ini masing masing memiliki kisah pilu.

Bayi-bayi orang utan ini umurnya kurang dari satu tahun. Pempers harus melekat sepanjang hari, sebab tak pernah terpredikdsi kapan bayi-bayi ini buang air, bisa-bisa saat digendong ia pun buang air. Dan ia punya kisah pilu yang beragam.

Ada dual hal kenapa bayi orang utan ini berada di pusat rehabilitasi. Pertama terpisah dari induknya karena bayi ini berusaha dijadikan binatang peliharaan oleh orang dan kedua karena kebakaran dan asap.

Pagi hari. Sinarnya tak begitu tegas menerpa rambut merah kecoklatan ciri khas orang utan, karena memang asap masih tebal di sekitar sini. Saatnya mengantar anak-anak orangutan berlatih mengembara di hutan yang sebenarnya.

Seekor orang utan dewasa dibiarkan dalam kandang, sebab bila dilepas ia justru berbahaya dan tak punya daya kemampuan survival, karena terlalu lama bergantung pada manusia.

Jarak yang cukup jauh sekitar 2 kilometer sengaja dipilih untuk memberi sedikit mungkin sentuhan manusia. Tujuannya mendekatkan sedekat mungkin dengan alam, sehingga mereka bisa mengasah naluri bertahan di alam liar.

Dibutuhkan waktu 3 hingga 7 tahun bagi bayi orang utan di sini. Hingga ia mandiri di habitat asalnya, yakni alam liar.

Ketergantungan orang utan pada induknya merupakan yang terlama dari semua hewan, karena ada banyak hal yang harus diperlajari untuk bisa bertahan hidup. Mereka biasanya dipelihara induknya hingga usia 6 tahun.

Layaknya dalam pengasuhan induknya sendiri. Kemampuan orang utan beradaptasi dengan alam terus diasah. Banyaknya orang utan di tempat rehabilitasi ini. Salah satu indikiasi orang utan dalam masalah besar. Habitat orang utan dari tahun ke tahun terus tergerus.

Saksikan selengkapnya rehabilitasi orang utan yang memiliki kisah pilu dalam tayangan Potret Menembus Batas SCTV, Minggu (25/10/2015), di bawah ini. (Dan/Ali)

Artikel Selanjutnya
Nasib Harimau Sumatera dalam Ancaman Jerat
Artikel Selanjutnya
Terkuak, Asteroid Pemusnah Dinosaurus Picu Kegelapan di Muka Bumi