Sukses

Potret Menembus Batas: Orang Rimba Zaman Sekarang

Liputan6.com, Jambi - 'Ada Gajah di Balik Batu' judul lagu yang saat ini sering diputar Radio Benor, radionya Orang Rimba atau Suku Anak Dalam. Radio Benor memberi cerita sendiri dalam perjalanan sejarah orang Rimba.

Anak-anak muda mengajak saudara-saudaranya, kakak-kakaknya, adik-adiknya bahkan orangtuanya yang tinggal di Rimba, Taman Nasional Bukti Duabelas, Jambi, menikmati lagu pop hingga kisah-kisah dongeng tentang Orang Rimba sendiri, termasuk pantun.

Radio seperti menghipnotis orang rimba. Penyiar-penyiar radio ini tak datang dari luar, mereka hadir dari dalam Rimba, yang tahu betul apa yang terjadi dan apa yang dibutuhkan Orang Rimba.

Masyarakat yang masih memegang kuat peradaban awal, berburu, mengumpulkan apa yang disediakan alam atau meramu dan tutur adalah cara menyampaikan gagasan.

Bahkan seperti saat minta izin pada dewa untuk membangun tangga guna memanen madu di pohon sialang atau kedongdong.

Ribuan lebah siap menyengat begitu sarang mereka diusik. Kulit kayu kering yang dibakar pengalih perhatian kemarahan lebah. Lebah madu hutan yang bernama latin apis dorsata sangat sensitif terhadap cahaya.

Madu punya nilai ekonomi yang cukup tinggi. Madu juga penunjang kebutuhan kalori bagi orang Rimba sendiri. Lebah jenis ini hanya menghasilkan madu selama 6 bulan saja dalam 1 tahun.

Berpikir sedikit modern mulai masuk ke dalam kehidupan Orang Rimba. Seperti keluarga Meratai. Kerja keras menyadap karet bahkan memanen rotan dilakukan bukan semata-mata untuk makan semata, namun demi biaya sekolah anak mereka di luar sana.

Anak-anak sekolah yang tinggal di rumah singgah milik Warung Infomasi Konservasi atau Warsi ini tak lain adalah anak-anak Rimba ingin keluar dari situasi dalam hutan.

Anak-anak yang mendobrak pemahaman, pendidikan adalah hal yang melawan aturan adat. Orangtua anak-anak bisa berjam-jam berjalan kaki dari dalam hutan untuk mengirim uang.

Sekolah menjadi pilihan anak Rimba karena dorongan dari LSM juga terus dijalankan. Baca tulis hitung (Calistung) diajarkan pada anak-anak kecil. Malam hari suara anak belajar berhitung terdengar di pondok-pondok Orang Rimba. Ini gambaran keinginan bocah Rimba menjadi anak yang pandai.

Saksikan selengkapnya kehidupan anak Rimba zaman sekarang yang ditayangkan Potret Menembus Batas SCTV, Minggu (6/12/2015), di bawah ini.

Artikel Selanjutnya
Bukan Takhayul, Kemukus Juga Tandai Kelahiran Bung Karno
Artikel Selanjutnya
Mencari Jejak Manusia Prasejarah di Maluku