Sukses

Potret Menembus Batas: Badak Pulang Kampung

Liputan6.com, Lampung - Sungai Way Kanan, salah satu gerbang menuju pedalaman hutan tropis Way Kambas, Lampung. Hutan yang menjadi rumah ratusan ribu hewan liar.

Seperti babi hutan yang hidup bersama 50 jenis mamalia lainya di kawasan ini. Atau ular piton yang sedang menunggu mangsa di atas pohon. Ia juga harus bersaing dengan reptil lainya di sekitar hutan ini.

Burung pecuk ular terbang dan berkembang biak bersama 400 spesies burung lainya. Dan yang paling utama, kawasan Way Kambas ini adalah benteng terakhir bagi satwa endemik Sumatera yang sudah terancam punah, yakni badak bercula dua.

Berbeda dengan saudaranya badak bercula satu dan menjadi binatang endemik Taman Nasional Ujung Kulon di ujung Pulau Jawa. Badak Sumatera di kawasan ini tinggal sekitar 25 ekor, sedang badak Jawa masih 50 hingga 60 ekor. Badak Sumatera di taman nasional ini situasinya jauh lebih mengerikan.

Upaya penyelamatan yang masih tinggal di alam liar adalah dengan terus memantau usaha-usaha yang bisa mencelakakan satwa, seperti membongkar perangkap-perangkap yang dipasang orang di dalam hutan. Bahkan patroli petugas juga menangkap orang-orang yang ingin melakukan pembalakan hutan.

Suaka Rino Sumatera satu upaya penyelamatan dari ancaman kepunahan dan pembiakan badak Sumetera semi alami.

Badak bernama Andatu hidup ini dengan kebahagiaan penuh di sini, setiap waktu ia bisa bermanja dengan Ratu induknya. Selain keduanya, tiga badak juga hidup dalam konservasi ini, Andalas ayah Andatu, Bina dan Rosa.

Tahun 2012, Andatu kecil lahir dari rahim Ratu, istri Andalas. Ini prestasi besar selama 124 tahun upaya pembiakan badak di Asia, baru kembali berhasil.

Andalas sendiri yang tercatat lahir di Amerika bersama dua saudara lainya, kini Andalas masih menunggu kepulangan adik tercinta kembali ke tanah air dari Kota Cincinati Amerika Serikat, adik Andalas itu bernama Harapan.

Harapan sedang berkubang harapan. Badak penghuni Kebun Binatang Cicintani Amerika Serikat, asli keturunan badak Sumatera, Bengkulu, Indonesia. Berambut, itu adalah salah satu cirinya atau lebih dikenal badak Asia bercula dua. Ia lahir di tempat ini bersama dua saudara lainnya, Suci dan Andalas.

Saat ini ada rencana Harapan akan dibawa pulang ke Indonesia bertemu kakaknya, Andalas.

"Saya rasa harapan akan baik-baik saja, kami tidak khawatir memindahkan dia ke belahan dunia yang lain selama ia menjalani pelatihan di kotak kayu, apalagi Harapan pergi menenempuh perjalanan jauh seperti ke Los Angles. Latihan ini agar ia terbiasa dengan situasi dalam perjalanan nanti," pungkas Paul Reinhart, keeper Harapan.

Latihan di kotak kayu tentu harapan menjalani rangkaian latihan perjalanan. Salah satunya masuk dalam kandang kayu sempit. Yang sesekali akan diperdengarkan suara gaduh layaknya dalam perjalanan. Dengan sesekali kadang itu diketuk-ketuk dari luar.

Harapan juga terus menjalani pengecekan kesehatan. Dokter general check up Harapan, darah veses dan untuk memastikan ia sehat betul.

Harapan lahir tahun 2007 dari pasangan Ipuh dan Emy, keduanya badak Sumatera atau badak becula dua yang dikirim ke Kebun Binatang Cicintani, Amerika Serikat ini tahun 1991.

Harapan kini hidup sebatang kara. Ipuh dan Emy telah meninggal. Kakaknya Suci juga meninggal dunia. Sedang Andalas telah lebih dahulu pulang ke tanah air Indonesia.

Apa sebab Harapan dibawa lagi ke Indonesia? saksikan tayangan selengkapnya dalam Potret Menembus Batas SCTV, Minggu (3/1/2015), di bawah ini.