Sukses

Potret Menembus Batas: Rakyat Dangdut

Liputan6.com, Jakarta - Rakyat ini menjejali labirin-labirin kota. Rakyat ini hidup di jalan-jalan kecil di antara kokohnya gedung-gedung lambang peradaban. Mencari celah ekonomi dari kebutuhan kota. Rakyat yang biasa disebut kekuatan demokrasi.

Rakyat konstituen partai, rakyat pemilik kedaulatan menolak keterpurukan. Meriah kebahagiaan dan menyatu dengan persoalan, bergoyang bersama zaman. Ratapan kadang menjadi keindahan. Harapan menginspirasi nyanyian dan dangdut meringankan beban.

Dangdut adalah anak kandung rakyat, jauh dicari dekat ditimang. Panggung dan arena joget seperti rumah bahagia.

Ruang cinta, pemusik, penyanyi dan penggemar. Lagu sumber segala gerak dan benar saat bertemu panggung dan penyanyi, penggemar seperti menimang anak kandung. Arena dangdut juga arena silaturahmi antarrakyat.

Mewahnya panggung bukan satu-satunya tempat pertemuan antara penyanyi dan penggemar saat dangdut berkumandang di pinggir jalan, dari gerobak sound sistem. Dengan cepat halte itu berubah menjadi arena yang mengasyikkan.

Bagi penyanyi yang menyandang nama artis yang selalu hadir untuk warganya dari panggung ke panggung, yang lebih banyak tampil pada urusan hajatan. Resepnya tak pernah hidup eksklusif dan terus berbaur dengan rakyat. Latihan vokal dan kareografi tak perlu di studio atau sanggar.

Lirik-lirik lagu cukup di hafal bergamit dengan nadanya. Sambil menghayati kisahnya. Tema lagu-lagu dangdut seperti membumi pada rasa yang dialami rakyat kebanyakan.

Saksikan merakyatnya alunan dangdut di hiruk pikuk Ibu Kota yang ditayangkan Potret Menembus Batas SCTV, Minggu (31/1/2016) di bawah ini.

Artikel Selanjutnya
Rumah Bung Karno dan Benteng Penjajah di Kanvas Sang Maestro
Artikel Selanjutnya
MPR: Jangan Anekdotkan NKRI Harga Mati dengan Penjual Bendera