Sukses

Potret Menembus Batas: Surga untuk Jalak Bali

Liputan6.com, Bali - Bali myna, jalak bali, sebagian orang menyebut curik bali. Spesies burung pengicau, satu-satunya satwa endemik Pulau Bali yang tersisa setelah harimau bali dinyatakan punah. Penampilannya yang elok dan kicau yang indah memikat para kolektor dan pemelihara burung.

Taman Nasional Bali Barat adalah satu-satunya tempat tinggal jalak bali di alam. Taman Nasional dengan luas 77 ribu hektare itu laksana surga bagi jalak bali.

Hutan hujan dataran rendah dengan makanan melimpah, seperti buah-buahan dan serangga atau ulat, jadi tempat paling istimewa bagi jalak bali. Di sini juga menjadi rumah 160 spesies hewan dan tumbuhan yang dilindungi.

Itulah tempat Walter Rothschild, pakar hewan berkebangsaan Inggris, menemukan dan mengidentifikasi hampir 100 tahun silam.

Perburuan liar, hilangnya habitat hutan dan terbatasnya daerah burung itu ditemukan, membuat populasi jalak bali menyusut tajam dan terancam punah dalam waktu singkat.

Namun, banyak pihak terlibat dalam konservasi jalak bali. Tak rela burung kebanggaan Pulau Dewata itu punah.

Seperti di Nusa Penida, pulau di tenggara Bali. Kawasan dengan bentang 200 kilometer persegi itu adalah surga kedua bagi jalak bali.

Burung bernama latin leucopsar rotschildi hidup bebas berdampingan dengan warganya. Tak ada rasa cemburu, burung-burung bebas memadu kasih di mana saja. Vegetasi alam Nusa Penida dianggap paling sesuai untuk jalak bali.

Program pelestarian jalak bali seiring sejalan dengan kesadaran masyarakat menjaganya, hingga memberlakukan sebuah awig-awig atau aturan adat yang melarang penangkapan jalak bali. Bila dilanggar, akan ada sanksi adat.

Pelepasliaran 25 ekor jalak bali di Desa Ped, menandai keberhasilan pelepasliaran total 84 ekor jalak bali oleh Friends of National Parks Foundation (FNPF), 10 tahun silam. 

Upaya pelestarian jalak bali tidak berhenti di Nusa Penida. I Gede Bayu Wirayuda melanjutkannya di Gianyar dengan sebuah penangkaran resmi untuk konservasi.

Kehadiran jalak bali menguntungkan banyak pihak. Selain menjaga keseimbangan alam, burung-burung itu memikat banyak wisatawan dan relawan asing.

Roda ekonomi berputar lebih cepat. Jalak bali hadir sebagai sebuah anugerah.

Tak sulit bertemu dengan rusa di Taman Nasional Bali Barat, rumah yang tak hanya bagi jalak bali, tapi juga satwa lainnya seperti lutung, binturong, burung raja udang, burung pelatuk dan juga ular pyton. Momen itulah daya tarik paling kuat Taman Nasional Bali Barat.

Upaya penyadartahuan Desa Sumber Klampok, salah satu desa penyangga di Taman Nasional Bali Barat, menjadi ujung tombak menangkarkan jalak bali secara resmi.

Semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan jalak bali, mendorong masyarakat bahu-membahu dengan negara menjadi penyelamat satwa. Inilah harmonisasi alam dengan manusia.

Pada akhirnya, pelestarian jalak bali membawa manfaat untuk semua. Jalak bali selamat dan bisa hidup berdampingan dengan manusia.

Masyarakat mendapat manfaat dari kehadiran jalak bali, sementara wisatawan pun mendapat hiburan dari jalak bali.

Bagaimana upaya konservasi terhadap jalak bali serta satwa endemik pulau Bali lainnya? Saksikan selengkapnya dalam tayangan Potret Menembus Batas SCTV edisi Minggu (15/5/2016) di bawah ini.

Artikel Selanjutnya
Mengenal 7 Wonders of Banten Lewat Banten Travel Mart 2017
Artikel Selanjutnya
Destinasi: Keindahan Terpendam di Pulau Rote NTT