Sukses

Potret Menembus Batas: Ketika Garam Tak Lagi Asin

Liputan6.com, Madura - Hujan siang itu belum juga berhenti. Matahari masih enggan menampakkan wajahnya. Dalam hitungan masyarakat Madura yang sebagian adalah petani garam, Ini adalah masa paceklik.

Masa produksi petani garam Madura, pulau pemasok 60 persen produksi garam negeri ini terpaksa ditunda. Tambak garam pun mati suri.

La nina. Fenomena cuaca di belahan barat Samudera Fasifik ini yang menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia bertambah.

Para petani garam gigit jari, karena keberhasilan panen kristal putih masih sangat bergantung dari matahari, sumber panas paling murah dan efisien.

Musradin salah satunya. Cuaca tak menentu membuat petani garam seperti Musradin putar otak.

Tumpukan-tumpukan garam penanda stok panen tahun lalu masih melimpah. Kondisi yang berseberangan dengan keputusan pemerintah dengan membebaskan impor garam.

Dan di saat cuaca tak menentu, bapak dua cucu ini banting setir mencari penghasilan.

Musradin satu dari ribuan mantong, sebutan petani penggarap garam di Madura, hanya bisa berharap mendung segera berganti terang dan harga jual garam tak dipermainkan segelintir golongan.

Timbunan lebih menggunung, kian tampak di gudang-gudang penyimpanan milik PT garam. Ini termasuk total produksi garam nasional tahun lalu yang mencapai 3 juta ton lebih. Belum lagi produksi dari para petani yang tidak semuanya bisa diserap oleh BUMN ini.

Meski secara kuantitas mengalami peningkatan, namun secara kualitas, garam lokal masih kalah bersaing dari luar negeri, seperti Australia dan India. Arus impor garam tak bisa dihindari.

Jejak kejayaan garam kini terbengkalai dan kusam. Ini berbanding terbalik dengan masa kolonial, ketika belum banyak daerah menghasilkan garam. Belanda mendirikan jawatan regie garam pada tahun 1921, untuk tata kelola garam.

Luas area penggaraman di Pulau Madura pernah tercatat 11 ribu hektare lebih. Kristal putih ini mengandung belasan mineral yang dibutuhkan tubuh manusia.

Tak sekadar bumbu masak, garam juga berguna sebagai bahan baku penting beragam industri, mulai dari tambang minyak hingga pabrik kertas.

Dalam pembuatan kertas, soda kaustik dan klorin yang terkandung dalam garam berguna memroses serat kayu dan untuk memutihkan bubur kertas.

Begitu penting garam hingga filsuf Yunani, Plato menggambarkan garam adalah sebuah material yang dicintai dewa.

Ironis. Negeri bahari dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia hingga sekarang masih mengimpor garam.

Mengandalkan teknologi sederhana yang menghasilkan butiran kasar atau krosok, masih diragukan kualitasnya.

Bukannya mengangkat kualitas dan jumlah produksi garam produksi lokal, tahun ini peraturan menteri perdagangan melonggarkan izin impor garam.

Bongkar muat garam di gudang tak cuma garam industri, tetapi importir juga bisa mengapalkan jenis garam konsumsi.

Padahal menurut satu-satunya badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pergaraman, total produksi garam nasional mencapai 3 juta ton.

Artinya, hanya selisih 700 ribu ton dari jumlah kebutuhan garam yang mencapai 3,7 juta ton.

Saksikan selengkapnya Ketika Garam Tak Lagi Asin yang ditayangkan Potret Menembus Batas, Minggu (17/7/2016), di bawah ini.

Artikel Selanjutnya
Cuaca Ekstrem, Petani Tambak Sawohan Gagal Panen
Artikel Selanjutnya
Pulau Garam Bakal Punya Pabrik Garam Industri