Sukses

Potret Menembus Batas: Mencari Jejak Si Raja Hutan

Liputan6.com, Bengkulu - Sifat buas harimau bernama Giring tak banyak berubah. Satu tahun di balik jeruji tak membuat Giring kehilangan nalurinya.

Eraman jadi pertanda Giring tak nyaman dengan kehadiran manusia. Peringatan bagi manusia yang mendekatinya.

Taman Wisata Alam Seblat menjadi rumah sementara bagi Giring. Dia terpaksa dievakuasi karena tersingkir dari habitatnya dan mulai menjadi ancaman bagi warga Desa Talang Beringin, Bengkulu.

Dibutuhkan keahlian khusus menangani satwa bertajuk raja hutan itu. Dokter Tanti salah satunya. Belasan tahun menangani penyelamatan harimau Sumatera membuat ia paham betul perilaku satwanya.

Tak hanya diberi makan, kesehatan Giring juga jadi fokus utama. Pemberian asupan cahaya matahari salah satunya.

Kewaspadaan Giring terhadap sesuatu yang dianggap baru adalah tanda bahwa Giring masih menyimpan naluri hidup di alam. Dengan sifat alami yang masih melekat itu Giring berpotensi dilepasliarkan kembali ke alam bebas.

Sementara, berpuluh tahun hidup dalam bayang-bayang harimau bukan lagi sebuah pilihan. Masyarakat Ulu Talo, Bengkulu, punya kesadaran menyelaraskan hidup dengan binatang yang keberadaannya dilindungi undang-undang.

Masalah muncul ketika maraknya pembukaan lahan hutan untuk produksi. Hal itu memaksa harimau-harimau bergerilya ke desa-desa untuk mencari makan.

Sebanyak 22 ekor kambing peliharaan hilang dalam setahun. Ancaman yang oleh warga diantisipasi dengan membangun kandang-kandang tinggi yang aman dari incaran harimau, predator paling puncak dalam sebuah ekosistem.

Warga Desa Mekar Jaya tinggal dan bekerja ditempat yang sama dengan harimau-harimau Sumatera bermain. Tapi pengalaman membuktikan, selama harimau tidak diganggu maka warga pun tidak akan diganggu harimau-harimau.

Masih lekat dalam benak masyarakat Seluma, harimau juga adalah sebuah anugerah. Walau kadang mengancam, keberadaannya juga harus dijaga.

Untuk memonitor keberadaan harimau-harimau yang ada di sekitar Ulu Talo, Tim Potret dan Pak Kanan, sukarelawan lembaga konservasi harimau, melakukan patroli pagi hingga malam hari.

Ia cukup paham dan hafal ciri maupun jejak dari masing-masing harimau yang melintas di wilayah Ulu Talo.

Banyaknya babi hutan yang berkeliaran di kebun warga juga tanda bahwa pakan para harimau ini tersedia di depan mata.

Tim kami pun mencoba peruntungan dengan menunggu harimau hingga turun hujan. Menurut testimoni warga, harimau biasanya berkeliaran sehabis hujan.

Namun keberuntungan belum berpihak. Hingga sore tiba, belum ada tanda-tanda keberadaan harimau. Patroli pun dilanjutkan di malam hari.

Patroli warga dan para aparat Desa Mekar Jaya dilakukan sebagai tindakan pencegahan sekaligus rasa tanggung jawab atas keamanan desa. Warga sadar dan peduli akan kelestarian harimau Sumatera yang jadi anugerah bagi desanya, dan selayaknya dijaga bersama.

Saksikan selengkapnya 'Mencari Jejak Si Raja Hutan' yang ditayangkan Potret Menembus Batas, Minggu (24/7/2016), di bawah ini.