Sukses

Potret Menembus Batas: Daulat Rakyat di Ladang Minyak

Liputan6.com, Bojonegoro - Degup derap mesin tua adalah buaian akrab para lelaki di Wonocolo, Kecamatan Kadewan, Bojonegoro, Jawa timur. Perputaran roda, tali-tali panjang dan besi timba menjadi nafas menggerakkan minyak mentah dari perut bumi.

Wonocolo satu dari tiga desa, dengan aktivitas penambangan minyak bumi tradisional terbesar di dunia, selain Hargo Mulyo dan Beji.

Ribuan orang menggantungkan hidup dari sumur tua peninggalan masa penjajahan Belanda. Lebih dari 700 sumur tua tambang minyak mentah menghiasi puluhan hektare di Kecamatan Kadewan, Bojonegoro.

Cipto Dangilo, lebih separuh hidupnya bersama minyak. Bapak beranak tiga ini menggantungkan hidupnya dari emas hitam sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Kini, setelah empat generasi turun temurun, bersama 12 orang anggota kelompoknya, Cipto mengelola lima sumur. Bermodal peralatan sederhana menimba lumpur dari perut bumi Angling Dharma, julukan buat Kabupaten Bojonegoro.

"Ini sumur tua milik kami, satu kelompok. Ini diproduksi dengan cara kita memiliki mesin yang kami modifikasi sedemikian rupa biar muter penarikan dengan sling. Pakai sling sekitar 400 meteran dan di sini ada namanya timba. Ada pipa yang timba 4 inci panjangnya sekitar 10 meter, bawahnya dikasih klep. jadi biar gak ditumplek gitu, jadi untuk mengeluarkan dari bawah" kata Cipto Dangilo, penambang minyak tradisional.

Tak mudah mengelola sumur tua peninggalan masa kolonial. Butuh waktu panjang dan biaya besar agar minyak mentah kembali menyembur.

Tak semua lubang menghasilkan minyak mentah melimpah. Belum lagi jika ada peralatan yang rusak. Satu sumur menghasilkan sekitar 3 ton minyak mentah dalam seminggu atau sekirar 420 liter per hari.

Hasil yang tak bisa dibilang kecil, dijual ke pertamina sebagai pemilik hak pengelolaan Blok Cepu.

Seiring anjloknya harga minyak dunia, kurang dari 50 Dolar Amerika serikat per barel atau sekitar Rp 3.500 per liter, penambang lebih memilih menjual ke penyulingan tradisional yang melimpah di sekitar lokasi penambangan.

"Pengennya ke Pertamina, tapi harganya ini. Harganya apa ya, ndak sesuai harapan. Pernah sesuai harapan ya kita ke Pertamina terus waktu 3.000 per liter waktu itu semua disetor ke Pertamina. Sekarang, yang dua minggu sekarang ya, kemarin itu 13 ya sebelas ribu lah itu, sekarang 17 (Rp 1.700), seribu tujuh ratus mas per liter sekarang. Belum penyusutan dari tangki. Kita setor 5 ton mungkin jadi 3 ton. Kalau jual nanti ada yang beli solarnya" ujar Cipto Dangilo.

Tak cuma siang, untuk mendapatkan hasil maksimal, malam hari sumur tetap ditimba.

Jejak sejarah tambang minyak tradisional di Wonocolo begitu panjang. Kala itu warga hanya menggunakan daya ungkit sederhana.

Baru menjelang awal 90-an, mesin truk bekas mulai dikenal dan menjamur hingga sekarang. Proses penyulingan lazim dijumpai di Wonocolo.

Minyak mentah dipanaskan di drum dalam tungku tanah sederhana. Untuk menghasilkan solar, dibutuhkan titik didih 270 sampai 350 derajat Celcius.

Uap hasil pembakaran dialirkan ke pipa di dalam tanah. Melewati dua media kolam pendingin, proses kondensasi terjadi, mengubah uap menjadi cairan.

Berdasarkan pengalaman turun temurun, minyak hasil fermentasi fosil binatang itu diubah menjadi bensin, minyak tanah dan yang paling banyak diproduksi yaitu solar.

Saksikan selengkapnya geliat aktivitas tambang minyak tradisional Wonocolo yang ditayangkan Potret Menembus Batas SCTV, Minggu (28/8/2016), di bawah ini.

Artikel Selanjutnya
22 Wilayah Kini Bisa Nikmati Harga BBM Seperti di Pulau Jawa
Artikel Selanjutnya
Produksi Ladang di Libya Bertambah Dorong Harga Minyak Naik