Sukses

Potret Menembus Batas: Selamatkan Manusia Lindungi Buaya

Liputan6.com, Kupang - Isak Manggi tak mudah melupakan tragedi yang pernah dialami. Luka di tubuhnya menggambarkan perjuangan hidup mati melawan buaya. Kecemasan itu mulai menyurutkan nyali untuk melaut.

Buaya memangsa manusia di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukan kali ini saja terjadi. Tahun ini sembilan orang tewas dimangsa buaya. Warga pun kehilangan rasa aman.

Setelah Isak Manggi, kini Yoksan Benyamin jadi korban berikutnya. Warga Kelurahan Merdeka, Kupang Timur itu, juga diterkam buaya.

Sebuah literatur menyebut, rahang buaya yang sangat kuat menjadikannya hewan dengan kekuatan gigitan paling besar. Tekanan gigitan buaya setara 15 kali gigitan anjing rottweiler atau 12,5 kali gigitan hiu putih raksasa.

Data Unit Perlindungan Satwa Liar atau Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT mencatat, 38 warga Kabupaten dan Kota Kupang tewas diterkam buaya muara dalam lima tahun terakhir.

Kemunculan buaya-buaya itu di tempat hunian semakin meresahkan warga. Apalagi kali ini buaya hadir di Pantai Lasiana, salah satu pantai paling digemari di Kupang.

Penelitian menunjukkan, bertambahnya populasi buaya, sempitnya areal habitat hingga berkurangnya pakan alami buaya jadi penyebab utama meningkatnya kemunculan buaya di tengah-tengah keramaian manusia.

Beruntung kegelisahan warga tersebut ditangkap WRU BBKSDA NTT. Upaya aktif menangkap predator pemangsa manusia itu segera dilakukan. Danau Ela Kualin di Timor Tengah Selatan jadi salah satu target tim WRU BBKSDA NTT. Di sini lima orang meninggal diterkam buaya.

Namun demikian, buaya sejatinya adalah hewan liar yang dilindungi undang-undang. Jadi penanganannya harus profesional dan proporsional.

Apalagi spesies buaya yang hidup di Nusa Tenggara Timur adalah buaya muara atau crocodilus porosus, salah satu spesies buaya terbesar di dunia. Ukurannya bisa lebih besar dari buaya Nil dan alligator Amerika. Penyebaran juga termasuk yang terluas di dunia dengan perkiraan hidup rata-rata hingga 70 tahun.

Meski demikian pengendalian populasi dan intervensi pengelolaan habitat buaya secara konseptual dan terencana jadi pilihan strategis untuk hidup damai bersama predator.

Saksikan kisah konflik buaya dan manusia di Kupang, Nusa Tenggara Timur, selengkapnya dalam Potret Menembus Batas, minggu (18/9/2016), di bawah ini.

Artikel Selanjutnya
Jembatan Asa SCTV di Sukabumi Diresmikan
Artikel Selanjutnya
3 Sosok Sepuh Peraih Liputan 6 Awards 2017