Sukses

Potret Menembus Batas: Menjaga Lutung Jawa yang Tersisa

Liputan6.com, Batu - Hidup dalam limpahan oksigen dan makanan, adalah kemewahan yang baru diraih oleh 3 individu lutung jawa atau bernama Latin Trancypithecus auratus.

Primata itu mendiami hutan lindung Coban Talun, Batu, Jawa Timur. Dua tahun berlalu, Linseed, Diamond dan Miko, menikmati kebebasan hidup di alam liar. Hidup dalam dukungan penuh alam semesta.

Sejumlah 3 individu lutung jawa dewasa ini adalah keluarga dari lutung jawa bernama Miko.

Miko adalah lutung liar yang menggeser dominasi Bobby, pemimpin utama dari 4 individu yang dilepasliarkan dua tahun lalu.

Dan sekarang, Miko membentuk kelompok baru dengan 2 individu yang terlahir dari buah cinta, Rus dan Mandy.

Linseed dan Diamond adalah keberhasilan trans-lokasi lutung dari Howletts Zoo Inggris, salah satu kebun binatang terbaik Eropa yang dimiliki The Aspinall Foundation.

Dan air hujan kali ini, berkah tak terbantah. Kebahagiaan kian bertambah kala mengetahui Linseed sedang hamil tua. Ini artinya, tak lama lagi keluarga Bobby bertambah satu.

Lutung jawa kini masuk dalam kategori rentan punah, karena populasinya terus menurun. Lebih dari 30 persen populasinya terus berkurang dalam rentang 35 tahun atau setara dengan tiga generasi, sedangkan panjang satu generasi adalah 12 tahun.

Perburuan, penangkapan dan perdagangan satwa untuk peliharaan juga hilangnya habitat, selalu dituding jadi penyebabnya.

Proses rehabilitasi lutung bukan perkara mudah. Sifat-sifat asli lutung harus dipastikan benar-benar muncul. Apalagi, lutung-lutung ini bekas peliharaan manusia.

Belum lagi persoalan kebiasaan diberi pakan yang bukan seharusnya. Lutung jawa harus mampu menghadapi ganasnya alam liar. Dan lutung harus mampu bertahan dengan pakan yang tersedia di alam.

Dan lutung-lutung terpilih siap dilepasliarkan. Karena dua kelompok dianggap mampu bertahan dan berkembang di habitat aslinya.

Saksikan rehabilitasi lutung jawa dalam tayangan Potret Menembus Batas SCTV, Minggu (23/10/2016), berikut ini.

Artikel Selanjutnya
Potret Menembus Batas: Bahasa Cinta untuk Si Paruh Bengkok
Artikel Selanjutnya
Perjalanan Hidup Mati 19 Kukang Jawa ke Hutan Ciremai