Sukses

Potret Menembus Batas: Living in Harmony

Liputan6.com, Kupang - Purnama kali ini benar-benar sebuah keberuntungan. Cahaya bulan mempermudah upaya pencarian buaya-buaya pemangsa manusia. Crocodylus porosus atau buaya muara adalah sumber keresahan warga Kupang, Nusa Tenggara Timur, dalam beberapa hari terakhir.

Pencarian sengaja dilakukan di malam hari. Sebab pendar mata buaya akan lebih mudah terdeteksi oleh sinar lampu dan ditambah cahaya rembulan. Sejumlah lokasi teror buaya pun ditelisik. Teluk Kupang, Danau Ela Kualin hingga Taman Wisata Alam Menipo.

Saat ini buaya-buaya di Kupang mulai menginvasi hunian warga. Kemunculannya di banyak tempat semakin meresahkan. Hal ini memaksa tindakan represif dilakukan, yaitu dengan menangkap buaya penebar keresahan. Unit Penanganan Satwa Liar atau Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur ambil bagian jadi garda terdepan menangkap buaya.

Ketenangan berubah seketika saat buaya muncul di Pantai Lasiana, salah satu andalan pariwisata di Kupang. Meski kehadiran buaya di muara sejatinya bukanlah hal yang aneh. Sebab di sinilah habitat sesungguhnya buaya muara.

Keberanian warga pun muncul di tengah rasa takut yang menyelimuti. Buaya yang juga seharusnya dilindungi jadi sasaran kemarahan. Kesedihan karena kehilangan anggota keluarga, juga ketakutan pergi mencari nafkah di laut membalut emosi warga. Satu ekor buaya raksasa pun tumbang.

Persinggungan jelajah manusia dan buaya ini tentu meresahkan. Apalagi 38 jiwa telah melayang hanya dalam lima tahun. Adalah Isak Manggi, sosok yang selamat dari keganasan buaya muara. Meski selamat, trauma tak bisa begitu saja pergi.

Namun perlahan sifat-sifat buaya kini mulai dimengerti warga. Buaya yang memiliki teritori atau wilayah jelajah punya naluri menghindari bahaya. Sifat dasar inilah yang sesungguhnya dapat menyelamatkan keduanya, buaya dan juga sekaligus manusianya.

Sejatinya, alam diciptakan selaras dengan makhluk di atasnya. Masing-masing punya peran pendukung kehidupan lainnya. Dan rantai makanan itulah sesungguhnya penjaga keseimbangan alam. Hidup berdampingan dengan alam adalah takdir tak terhindarkan.

Saksikan selengkapnya dalam Potret Menembus Batas SCTV, Minggu (13/11/2016) di bawah ini.

 

Artikel Selanjutnya
Jembatan Asa SCTV di Sukabumi Diresmikan
Artikel Selanjutnya
3 Sosok Sepuh Peraih Liputan 6 Awards 2017