Sukses

Potret Menembus Batas: Metamorfosa Keroncong

Liputan6.com, Jakarta - Identik musik kaum tua dan berlanggam Jawa, genre musik keroncong kini berada pada titik jenuh. Namun beruntung, musik keroncong menjadi menu wajib di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Menolak punah dan keroncong kembali digemari, inilah semangat yang diusung dari markas para calon pendidik seni itu.

Marco Manardi, pentolan grup Congrock 17 ini enggan terpaku pakem. Sudah sejak 1983 Marco mengulik sisi estetika keroncong. Inilah yang coba ditularkannya pada kaum cerdik cendekia agar musik genre ini bisa diterima semua kalangan.

Sementara dengan mengusung jiwa muda, Keroncong Tujuh Putri pun bebas berekspresi dalam bermusik. Dengan tetap mempertahankan pakem keroncong, grup yang tumbuh dan berkembang di Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI ini pun berusaha menularkan virus keroncong modern.

Warna musik lebih segar dan tanpa menghilangkan napas keroncong menjadi nuansa yang coba disuguhkan Keroncong Tujuh Putri.

Tujuh dara asal Bandung ini terus memacu kreativitasnya dengan tidak mengharamkan genre lain, namun tetap menjaga komposisi yang pas. Kini Rachma dan kawan-kawan banyak menuai tanggapan positif dari penikmat musik Tanah Air.

Dengan mengusung musik khas, Keroncong Tujuh Putri laris manis mengisi panggung demi panggung. Bekerja sama dengan musisi kondang pun tak lagi mimpi.

Di antaranya dengan salah satu diva keroncong Sundari Soekotjo. Meski identik dengan keroncong berlanggam Jawa, namun Sundari terbuka dengan unsur musik lain demi kemajuan.

Regenerasi juga punya arti penting agar musik asli Tanah Air ini tak tergilas zaman. Bukan semata pengakuan warisan budaya dari UNESCO, wanita yang mengenal keroncong sejak usia 10 tahun ini berharap keroncong jadi tuan di negeri sendiri.

Sejatinya, urusan keroncong tak bisa lepas dari Ibu Kota. Di sudut timur laut Jakarta, embrio jenis musik ini meretas diri bersama dengan kehadiran rombongan pelaut Portugis di akhir abad ke-17.

Di cikal bakal tempat kelahiran Kampung Tugu, Semper, Jakarta Utara, grup Krontjong Toegoe masih setia menjaga eksistensi jenis musik ini. Berirama cepat, gaya Tugu berbeda dengan keroncong langgam Jawa atau Trulungan.

Mempertegas keroncong musik milik Indonesia, Andre Juan Michiels bersama saudara dan teman menjaga keroncong Tugu tetap lestari.

Musik bagi masyarakat Tugu adalah media relaksasi, pengiring dansa saat pesta atau teman bersantai. Andre bersama adik-adiknya adalah penerus trah Michiels, satu di antara segelintir keluarga penghuni Kampung Tugu sejak awal abad ke-17.

Di usianya yang baru menginjak 15 tahun, Juliet Angela Ermestin menjadi salah satu penerus pelestari keroncong Tugu. Angel paham, tak mudah menyanyikan keroncong. Butuh cengkok khas dan pelafalan lagu Belanda atau Portugal. Namuh ia terus berupaya menepis suara sumbang imej keroncong.

Gereja Tugu jadi saksi bisu perjalanan Kampung Tugu. Konsentrasi masyarakat keturunan Portugis yang melahirkan musik perpaduan musik hibrida.

Keroncong menemukan jati diri pada tahun 1880. Dekat dengan Pelabuhan Tanjung Priok, wilayah cagar budaya ini kian tergerus peradaban.

Sebagai generasi ke-10, Andre sudah mempersiapkan penerima estafet pelestari keroncong Tugu. Beban itu ada di pundak Arend Stevanus Michiels. Sejarah keroncong dan filosofi bermusik ditularkan sang ayah dan Arthur Michiels, salah satu paman.

Meski lahir dan besar bersama musik keroncong, Arend tak mau setengah hati. Tak sekadar otodidak, Nono mengasah seni bermusik di Institut Kesenian Jakarta. Ilmu yang nantinya menjadi bekal dalam mengawal perjalanan keroncong Tugu.

Menjaga jiwa idealis tetapi terbuka akan perubahan. Sikap ini dipegang teguh oleh para personel orkes Keroncong Toegoe. Deretan lagu tradisi Kampung Tugu tak dilupakan, sementara koleksi lagu dan kamus bermusik terus diperbaharui demi keroncong Tugu tetap lestari.

Bagaimana musik keroncong bisa bertahan hingga kini? Saksikan selengkapnya dalam Potret Menembus Batas SCTV, Minggu (27/11/2016) di bawah ini.

Artikel Selanjutnya
Mahasiswa Prasetya Mulya Merawat Pluralisme Lewat Pentas Deja Vu
Artikel Selanjutnya
Musik Keroncong di Alun-alun, Ngabuburit Berkelas ala Purbalingga