Sukses

VIDEO: Rekam Jejak Kekerasan di Kampus STIP Marunda

Liputan6.com, Jakarta - Mental tangguh menjadi hal yang wajib dimiliki para taruna lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Namun kini, penempaannya malah terjebak pada tradisi perpeloncoan yang berbau kekerasan dari senior ke junior. Hingga kerap banyak siswa yang terluka atau sampai meninggal dunia.

STIP yang kini berdiri megah di Kampus Marunda, Cilincing, Jakarta Utara awalnya bernama Akademi Ilmu Pelayaran yang berdiri sejak 1953. Namanya berganti menjadi STIP seiring perpindahannya ke kawasan ini pada 2000.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Kamis (12/1/2017), STIP merupakan sekolah tinggi kedinasan yang berada di bawah naungan Badan Diklat Kementerian Perhubungan.

Sebagai sekolah tinggi yang mencetak lulusan siap pakai untuk dunia pelayaran, fasilitas pendukung perkuliahan STIP terbilang mumpuni. Mulai dari ruang kelas, berbagai ruang simulator hingga kolam renang, lapangan sepak bola, dan asrama.

Setiap tahunnya, STIP telah mencetak lulusan setara D3 dan D4 untuk jurusan Nautika dan Teknika. STIP juga menyelenggarakan pendidikan lanjutan ke jenjang S2 dan S3.

Sebagai sekolah tinggi kedinasan, para taruna STIP menghabiskan hampir seluruh masa pendidikannya di dalam kampus. Tinggal di asrama, mereka dituntut mandiri dengan bermodal kerajinan dan ketangguhan. Hal ini dimaksudkan untuk menempa karakter para taruna menjadi lebih kuat.

Namun yang terjadi malah berujung pada kekerasan dari senior ke junior di Kampus STIP yang hingga kini belum juga pupus.

Dalam satu dekade terakhir, tercatat tiga taruna STIP tewas di tangan para seniornya. 3 April 2007, Agung Bastian Gultom meregang nyawa setelah disiksa. Pada 25 April 2014, maut menjemput Dimas Dikita Handoko.

Terakhir baru saja terjadi pada 10 Januari 2017. Amirullah Adityas Putra tewas akibat disiksa seniornya.

Simak video selengkapnya dalam tautan ini.

Artikel Selanjutnya
Siswa SMK di Jakarta Utara Dikeluarkan karena Aniaya Adik Kelas
Artikel Selanjutnya
Kecam Bullying, Aktivis Disabilitas Datangi Universitas Gunadarma