Sukses

Potret Menembus Batas: Denting Musik Bambu Karinding

Liputan6.com, Sumedang - Menyatu dengan alam menggema di antara pepohonan pinus. Para personel Karinding Attack Syahdu mengiringi lantunan doa dan petuah leluhur.

Berlatar belakang musik cadas, sekumpulan pria-pria ini menolak lupa akar budaya dengan menggaungkan kembali karinding, alat musik khas tatar Sunda.

Bicara soal karinding, tak bisa lepas dari sosok Abah Olot. Pemilik nama lengkap Enang Sugriwa, mulai menghidupkan kembali karinding 12 tahun silam setelah mati suri.

Di tangannya, bilah enau atau bambu menjelma jadi perkusi.

Bukan alat musik tiup, karinding adalah tetabuhan harmonisasi hati dan laku kaya filosofi. Syair yang menyertai berisi etika dan norma.

Di tangan maestro, padu padan karinding dan alat musik bambu lain seperti celempung dan suling melahirkan komposisi penggugah jati diri.

Di tengah kesunyian, alunan karinding merasuk ke dalam sanubari. Sebagian kalangan meyakini, alat musik ini merupakan media komunikasi dengan leluhur.

Karinding lekat dengan masyarakat agraris. Teman setia saat ke sawah atau ladang juga sarana pengusir hama.

Hadirnya perkusi imut ini tak tercatat dalam sejarah, namun dipercaya sudah menjadi media berkesenian sejak ratusan tahun silam.

Denting dawai bambu di kerongkongan saling bersahutan. Komunitas karinding raharha sadulur merawat artefak dalam rampak tetabuhan.

Dindin Romansyah, biasa dipanggil bogel, setia menjaga eksistensi musik karuhun, peninggalan nenek moyang. Musik cadas dan geng motor adalah bagian masa lalu sebelum bogel terpikat karinding.

Tiada kepastian jadwal manggung,tetapi semangat geng karinding ini tak surut.

Panggung adalah media ekspresi rasa pada nilai-nilai yang terukur dan karinding kalah nyaring.

Butuh eksplorasi agar bunyi karinding lebih dominan, bukan sekadar instrumen pengiring.

Saksikan eksistensi karinding selengkapnya yang ditayangankan Potret Menembus Batas SCTV, Minggu (12/2/2017) dalam tautan ini.

Artikel Selanjutnya
Kesenian Betawi Ini Mulai Jarang Terlihat di Jakarta, Apa saja?
Artikel Selanjutnya
Keep The Blues Alive: Konser Para Pencinta Blues Jogja