Sukses

Barometer Pekan ini: Petaka di Bukit Banaran

Liputan6.com, Ponorogo - Hari terkelam dalam hidup Sugianto itu terjadi Sabtu pagi pekan lalu. Saat itu, bukit di Desa Banaran, Kecamatan Pucung, Ponorogo tiba-tiba longsor.

Dengan sangat cepat, material longsoran tanah itu menimbun semuanya: rumah, kebun jahe, puluhan orang yang sedang memanen jahe. 28 orang terperangkap dalam longsor. Mereka di antaranya adalah istri, anak, dan mertua Sugianto.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Petang SCTV, Sabtu (8/4/2017), Sugianto tidak sendiri. Warga Banaran lain juga berduka karena kehilangan anggota keluarganya. Termasuk Ismiatun (52) yang kehilangan anak sulung, orang tua, dan kakaknya. Hingga kini mereka tak kunjung ditemukan.

Pencarian korban memang tidak mudah. Berbagai kendala menghadang. Misalnya cuaca tak menentu seperti hujan yang sangat mungkin memicu longsor susulan. Juga tebalnya timbunan tanah yang di beberapa titik mencapai 20 meter. Anjing-anjing pelacak yang terlatih pun tak mampu mengendus keberadaan korban-koban.

Selain mengubur 28 orang, longsor juga menyebabkan beberapa orang terluka dan menghancurkan rumah-rumah dan harta benda warga lainnya seperti mobil dan sepeda motor. Hal ini memaksa warga mengungsi. Selain rumah rusak, mereka mengungsi juga karena khawatir terjadi longsor susulan.

Namun di saat duka meraja tetap ada bahagia di sana. Seorang pengungsi, Lina Royani minggu dinihari melahirkan bayi laki-laki di Puskesmas Banaran.

Sebenarnya jatuhnya korban akibat longsor di Desa Banaran bisa dihindari karena bencana itu bukan tanpa pertanda. Alam sudah memberi isyarat akan datangnya petaka itu. Pada 11 Maret 2017 lalu ditemukan retakan di lereng bukit di Banaran itu.

Sepekan kemudian, retakan melebar dan meluas jadi sembilan meter. 26 Maret 2017 retakan meluas sampai 20 meter. Mengantisipasi bencana bila hujan lebat turun, Pemkab Ponorogo mengungsikan warga dari lereng bukit.

Beberapa hari cuaca cerah membuat warga lengah dan mengabaikan bahaya alam yang mengintai. Dengan panjang landaan dari puncak longsor 1,1 kilometer dan total luas longsoran 12, 2 hektare. Tanah longsor di Desa Banaran memang sangat mematikan.

Tapi mengapa Bukit Banaran itu longsor? Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meyakini diubahnya hutan lindung di bukit itu menjadi lahan pertanian sebagai penyebabnya. Alih fungsi lahan untuk tidak mengatakan perusakan lingkungan memang seringkali memicu longsor.

Hampir semua wilayah Indonesia terutama di pulau Jawa dan sebagian Sumatera, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur rawan longsor.

Dari tahun 2012 hingga 2016 saja terjadi 2.278 longsor besar dan kecil dengan total korban tewas 993 orang. Sementara sejak awal tahun hingga maret 2017 saja terjadi 273 longsor yang sebagian berbarengan dengan banjir dengan korban tewas 36 orang.

Bencana demi bencana yang mendera kita mengingatkan betapa kita harus bijak memperlakukan dan bersahabat dengan alam.

Bagaimana nasib korban longsor Desa Banaran? Saksikan dalam Barometer Pekan Ini edisi Sabtu (8/4/2017), berikut ini.

Artikel Selanjutnya
Longsor Putus Jalur Kotamobagu - Minahasa Tenggara
Artikel Selanjutnya
Khansa, Bocah Perempuan Penakluk 7 Gunung Tertinggi di Indonesia