Sukses

Mothers Hope, Komunitas Para Ibu Mengadu Suka Duka

Liputan6.com, Jakarta - Kelahiran seorang bayi seharusnya disambut suka cita. Tapi, bagi sebagian perempuan pascamelahirkan adalah hal sulit. Butuh keberanian dalam segala hal, termasuk mengasuh sang buah hati.

Kesulitan itu membuat Nuryanah Yirah menciptakan ruang bagi para ibu untuk mengadu tanpa rasa malu dan dihakimi. Wanita yang akrab disapa Yana itu pun membuat sebuah komunitas Mothers Hope pada tahun 2015.

"Bayi saya meninggal dunia dalam kandungan pada saat dia usia tujuh bulan. Saat itu saya sudah mengalami gejala depresi. Lima bulan kemudian saya hamil lagi, masih dalam kondisi depresi, jadi saat itu saya tidak dapat menikmati kehamilan saya yang kedua," ujar Yana dalam Pantang Menyerah yang ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Jumat (12/5/2017).

Yana menjalani aktivitasnya di Mothers Hope dengan uang pribadi. Di komunitas ini, para ibu bisa saling membantu, menguatkan, dan konsultasi psikologi gratis.

Pengalaman yang diungkapkan bukan hanya cerita kebahagiaan. Di balik senyum di hadapan buah hatinya, tersimpan sebuah kegelisahan yang hanya dirasakan seorang ibu.

"Dengan adanya sharing seperti ini sangat membantu, terutama untuk saya sendiri sebagai ibu baru," kata seorang anggota Mothers Hope, Uzha Reina Nastity.

Perubahan yang dialami wanita menjadi seorang ibu merupakan fase penting, namun sering sekali diabaikan. Oleh karena itu, komunitas Mothers Hope bertekad akan terus berbagi.

"Jangan merasa sendirian, jangan putus harapan. Sekecil apapun gejalanya, ketika ibu sudah merasa tidak nyaman atau sudah berpikiran mengakhiri hidup atau melukai bayi, segera cari bantuan. Entah itu ke komunitas, psikolog, atau ke psikiater," tutur ibu pendiri Mothers Hope tersebut.

Saksikan kisah Yana mendirikan komunitas Mothers Hope selengkapnya berikut ini.

Artikel Selanjutnya
Hamil ke-20, Pasutri Ini Kehabisan Ide Nama Anak
Artikel Selanjutnya
Lahirkan Bayi Tanpa Anggota Tubuh, Ibu Anggap Hukuman Tuhan